7  UAS-2 My Opinions

MY OPINIONS

Menurut saya, salah satu kegagalan terbesar dalam upaya penanggulangan kemiskinan selama ini bukan terletak pada kurangnya niat atau program, melainkan pada cara sistem memahami kemiskinan itu sendiri. Banyak kebijakan dan bantuan sosial dirancang berdasarkan data yang sempit dan kaku, sehingga hanya menjangkau mereka yang sudah “terlihat” oleh sistem. Akibatnya, kelompok masyarakat yang paling rentan justru sering terlewat, bukan karena mereka tidak membutuhkan bantuan, tetapi karena sistem tidak mampu mengenali kondisi mereka secara utuh.

Saya berpendapat bahwa penggunaan Artificial Intelligence dalam konteks kemiskinan tidak seharusnya dipahami sebagai upaya menggantikan peran manusia atau menyederhanakan persoalan sosial yang kompleks. Justru sebaliknya, AI perlu diposisikan sebagai alat bantu untuk memperkaya cara pandang sistem terhadap realitas sosial. Ketika teknologi digunakan hanya untuk efisiensi administratif, maka risiko ketidakadilan akan semakin besar. Namun, jika AI digunakan untuk membantu sistem memahami pola kehidupan dan kerentanan masyarakat, teknologi dapat menjadi sarana untuk membuat kebijakan lebih peka dan manusiawi.

Di era Artificial Intelligence, mempertahankan sistem sosial yang bergantung pada data formal semata menurut saya tidak lagi relevan. Dunia telah berubah, dan cara manusia berinteraksi dengan sistem juga semakin beragam. Oleh karena itu, sistem yang menolak membaca data di luar kategori formal berpotensi memperlebar kesenjangan sosial. Dalam pandangan saya, ketidakmampuan sistem untuk beradaptasi dengan kompleksitas kehidupan masyarakat miskin merupakan bentuk kegagalan struktural yang perlu segera diperbaiki.

Saya juga meyakini bahwa keberhasilan penerapan AI dalam penanggulangan kemiskinan sangat bergantung pada etika dan tanggung jawab dalam penggunaannya. AI tidak boleh digunakan untuk memberi label, menghakimi, atau mengurangi martabat manusia menjadi sekadar angka atau skor. Sebaliknya, teknologi harus dirancang untuk mendukung keputusan yang adil, transparan, dan berorientasi pada kesejahteraan manusia. Tanpa landasan etis yang kuat, penggunaan AI justru berisiko memperkuat bias dan ketimpangan yang sudah ada.

Melalui pandangan ini, saya percaya bahwa pemanfaatan Sistem dan Teknologi Informasi berbasis Artificial Intelligence dapat menjadi langkah penting dalam membangun sistem sosial yang lebih inklusif. Bukan karena teknologi mampu menyelesaikan kemiskinan secara instan, melainkan karena teknologi dapat membantu sistem melihat manusia dengan lebih utuh. Dengan pendekatan yang berpusat pada manusia, AI berpotensi menjadi alat yang memperkuat keadilan sosial, bukan sekadar instrumen teknis dalam pengambilan keputusan.