3  UTS-3 My Stories for You

My Stories For You

Belakangan ini, aku mulai sadar satu hal tentang diriku dan tentang banyak orang di sekitarku. Kita sering banget pengen cepat kelihatan baik-baik saja, cepat sampai ke kesimpulan yang terdengar dewasa, tanpa benar-benar berani berhadapan dengan apa yang sebenarnya lagi kita rasain. Bukan karena kita nggak mau berubah, tapi karena jujur sama diri sendiri itu ternyata nggak gampang.

Aku lihat, termasuk di diriku sendiri, kita sering lebih jago mikir daripada ngerasa. Kita cepat cari alasan, cepat nyimpulin, cepat bilang “ya udah nggak apa-apa”, tanpa benar-benar berhenti dan ngakuin apa yang sebenarnya lagi kita rasain. Kadang bentuknya sesimpel langsung nyibukin diri, ketawa atau bercanda biar nggak perlu ngerasain apa-apa, atau ngejelasin semuanya pakai logika supaya kelihatan dewasa, padahal di dalamnya masih ada yang belum selesai.

Dari situ aku belajar bahwa kemampuan seseorang untuk bertumbuh sangat berkaitan dengan seberapa berani dia menghadapi kebenaran tentang dirinya sendiri. Bukan cuma kebenaran yang enak, tapi juga bagian-bagian yang selama ini dihindari: rasa sedih, marah, kecewa, atau sisi diri yang nggak sesuai sama bayangan “aku seharusnya”, termasuk juga rasa bersalah. Menghadapi itu berarti berani berhenti sebentar, ngaku sama diri sendiri apa yang sebenarnya terjadi, tanpa kabur ke distraksi atau pura-pura semuanya baik-baik saja.

Lewat proses ini, aku belajar bahwa hal yang paling dewasa bukanlah selalu punya jawaban cepat, terlihat kuat, atau cepat “move on”. Kadang, yang paling dewasa justru adalah berani nggak lari dan menghadapi diri sendiri apa adanya.

Mungkin prosesnya nggak rapi dan nggak cepat, tapi memberi diri sendiri waktu untuk memproses itu pelan-pelan justru yang akhirnya membuka ruang untuk perubahan yang datang dari proses yang jujur.